Pemuda dan Ideologi

Pemuda adalah tonggak perubahan, pemuda adalah pemegang estafet pembangunan sehingga bangsa yang ingin besar, bangsa yang ingin ‘memimpin’ perlu terlebih dahulu memoles pemudanya, perlu terlebih dahulu mempersiapkan serta memperkuat mental dan ideologi generasi mudanya. Modernisasi masuk ke Indonesia tidak hanya membawa produk modernitas itu sendiri namun juga, dan yang lebih berbahaya, membawa berbagai macam nilai dan budaya yang mendominasi modernitas itu (baca nilai dan budaya barat). Pemuda perlu memperkaya diri dengan nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal jika ingin maju sebagai pemuda Indonesia yang bangga akan budaya dengan tetap membawa identitas bangsa. Kenyataannya, pemuda masa kini, juga beberapa pemimpin Indonesia, tidak siap atau bahkan kurang percaya diri membawa nilai-nilai budaya dan ideologi bangsa dalam pergaulan internasional sehingga Indonesia seakan kehilangan identitas di mata bangsa lain. Suatu saat ketika saya berkunjung ke Islamic Center New York yang kebetulan dipimpin oleh orang Indonesia, Imam Shamsi Ali (berasal dari Makassar), seorang teman, sambil terdecak kagum akan kehebatan sang imam, bertanya “mengapa orang Indonesia di sini (Amerika) tidak begitu menonjol (jarang yang menjadi pemimpin)?’. Dijawab oleh sang imam:

“Masyarakat kita pada umumnya kurang percaya diri jika berbaur dengan komunitas internasional, bahkan untuk urusan agama, meskipun Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia tidak begitu dikenal dunia internasional. Ketika seseorang menyebut kata ‘Islam’ maka yang terbayang di kepala mereka adalah ‘Timur-Tengah’ atau negara-negara Asia Selatan seperti India, Pakistan, Afghanistan atau Bangladesh, padahal Indonesia memiliki ciri keislaman tersendiri”.

Begitulah kira-kira wajah Indonesia di mata dunia internasional, tidak memiliki identitas bahkan tidak dikenal sama sekali (tidak ada yang bisa dibanggakan). Hal tersebut, menurut saya, adalah persoalan ideologi yang tercemari. Kolonialisasi ratusan tahun tampaknya telah membawa dampak buruk bagi mental generasi bangsa. Generasi muda kita pada saat ini seakan kurang percaya diri ketika berhadapan dengan bangsa lain, terutama bangsa barat. Samuel P. Huntington dalam buku The Clash of Civilization and the Remaking of New World Order telah memberikan dasar pertentangan ideologi antara ‘Barat’ dan ‘Timur’. Huntington memposisikan Barat sebagai bangsa ‘beradab’ yang sistemnya perlu diikuti, sedangkan bangsa Timur adalah bangsa ‘bar-bar’ dan ‘tidak beradab’ yang perlu ‘diberadabkan’, oleh sebab itu ‘ideologi’ bangsa barat perlu mendominasi ideologi Timur, ideologi timur perlu direduksi semaksimal mungkin bahkan bila perlu dihilangkan. Generasi muda kita, seakan membenarkan thesis tersebut (meskipun kita bersyukur saat ini telah banyak lahir gerakan pemuda yang konsen terhadap kemajuan bangsa dengan mengusung ideologi Pancasila sebagai basis pergerakan) seakan merasa rendah di hadapan bangsa barat. Tidak jarang di antara mereka yang menempuh pendidikan di negara-negara barat pulang dengan mengadopsi ideologi barat, menjadi penyembah ideologi barat dan melupakan nilai budaya lokal serta kearifan lokal. Perang ideologi sedapat mungkin diwaspadai generasi muda, bukan berarti bersikap paranoid dan membuang semua hal yang datang dari barat. Nilai-nilai barat sedapat mungkin disaring, diadopsi serta disesuaikan dengan budaya lokal dan bukan sebaliknya.

Prinsip umum yang perlu diketahui oleh pemuda adalah bahwa ideologi perlu dilawan dengan ideologi dan bukannya ideologi dilawan dengan senjata atau bom seperti yang banyak terjadi. Persoalannya adalah ‘mewarnai’ atau ‘diwarnai’, Jika pemuda tidak membekali diri dengan kearifan nilai-nilai budaya lokal maka yang terjadi adalah ‘diwarnai’ sehingga hilanglah identitas kita sebagai bangsa. Sebagai contoh bisa dilihat bagaimana ideologi komunis yang dulunya ‘mendunia’ sekarang hampir tidak memiliki pendukung pasca runtuhnya Uni Soviet. Amerika menerapkan pola ‘ideologi versus ideologi’ untuk menghilangkan ideologi ini. Melalui penerbitan karya-karya yang menyudutkan paham komunisme, Amerika berhasil membersihkan paham ini tanpa menyerukan perang senjata. Sebagai kesimpulan, untuk menjadi bangsa yang besar dan bermartabat serta disegani bangsa lain, pemuda sebagai tonggak perubahan perlu terlebih dahulu memahami ideologi Pancasila dan nilai-nilai kearifan lokal. Pemuda harus bangga dengan nilai-nilai lokal untuk bisa menjadikan INDONESIA MEMIMPIN.

 Makassar, 1 Juni 2011

                                                                                              Safrin La Batu

About these ads
This entry was posted in Opinion and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pemuda dan Ideologi

  1. qia says:

    Setuju kalau ideologi harus dilawan dengan ideologi. Sekarang memang zamannya perang pemikiran. Ada sebuah ketakutan dalam bukunya Samuel P.Huntington itu bahwa ancaman terbesar ideologi barat (baca:kapitalisme) ialah ideologi timur (baca:islam) sebenarnya ideologi pancasila tidak ada bedanya dengan ideologi barat, karena dia ideologi terbuka. tergantung siapa yang memback-upnya. ingat, waktu Soekarno memimpin bangsa ini, beliau mengarahkan ideologi pancasila ke arah sosialis-komunis karena beliau menganut ideologi tsb. Sekarang pancasila ditunggangi oleh kapitalisme karena konstelasi politik dunia sekarang memang didominasi oleh Amerika sebagai pengusung kapitalisme juga para pemimpin negeri ini yang membebek ke Amerika. Tahukah bahwa islam bukan hanya sekedar agama tapi juga ideologi yang mampu mengatur dan menjadi solusi problematika umat mulai dari masalah ekonomi, hukum, budaya, politik, dll. ada dalam dalam al qur’an dan as sunnah. Islam sudah sempurna dibawa oleh rasulullah. Saatnya kita berjuang untuk ideologi islam. karena islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Allahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s