Menyederhanakan Konsep Abstrak Langue and Parole

Bagi kebanyakan mahasiswa jurusan linguistik, memahami konsep linguistik strukturalisme Ferdinand de Saussure seringkali membingungkan. Alih-alih mengkontekstualisasikan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari, membaca teorinya saja bisa membuat kita terjebak dalam labirin yang membingungkan (meminjam istilah Benny H. Hoed). Mahasiswa sering mengeluhkan pen-dikotomis-an antara signifiant (penanda), signifie (petanda) dan langue, parole di satu sisi, serta hubungan keterkaitan di antara keduanya di sisi lain. Lebih membingungkan lagi ketika membawa kajian ini ke dalam bidang semiotika di mana mahasiswa harus bisa membedakan dan menghubungkan konsep semiotika Saussure dan Peirce. Dalam konteks hubungan Langue dan Parole, banyak yang memaknai hubungan keduanya sebagai hubungan satu arah dimana langue selalu saja menentukan parole. Pandangan ini tentu saja keliru karena dengan pemahaman seperti itu maka konsep strukturalisme akan kehilangan relevansi-nya dalam masyarakat. Melalui renungan dari sebuah percakapan non-formal, saya mencoba melihat konteks untuk menyederhanakan konsep Langue dan Parole. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan pemahaman yang jelas mengenai konsep tersebut.

Suatu ketika dalam suatu percakapan di kampus, seorang teman tiba-tiba memotong pembicaraan sambil membenarkan struktur kalimat yang saya ucapkan. ‘struktur kalimat yang kamu ucapkan kurang sesuai dengan gramatika Bahasa Indonesai’ teman tersebut berkata. ‘seharusnya kamu ucapkan dia mau ke mana? atau dia mau pergi ke mana? ” lanjutnya sambil menjelaskan bahwa struktur bahasa Indonesia adalah ‘subyek + predikat (kata kerja) atau subyek + keterangan tempat’ membetulkan kalimat yang sebelumnya saya ucapkan “mau ke mana dia?

Dalam percakapan di atas, struktur Bahasa Indonesia yang disodorkan teman saya berlaku sebagai Langue yakni kaidah-kaidah yang berlaku. Sedangkan kalimat yang saya ucapkan adalah Parole yakni praktik berbahasa dalam kehidupan masyarakat. Sebelumnya dijelaskan bahwa Langue dan Parole berada pada posisi dikotomis. Dalam konteks ini, langue dipahami sebagai pola umum (kolektif) yang berlaku dalam sebuah bahasa pada contoh di atas disebut sebagai ‘struktur Bahasa Indonesia’ sedangkan parole merupakan ucapan individual sebagai  manifestasi dari Langue yang telah ada pada kognisi manusia.

Berikut mari kita lihat hubungan langue-parole dalam masyarakat. Sebagaimana dinyatakan di atas, hubungan keduanya tidak boleh dilihat sebagai hubungan satu arah. Pada praktiknya, parole tidak selalu berevolusi mengikuti langue; percakapan yang terjadi dalam masyarakat tidak selalu harus mengikuti kaidah tata bahasa. Sebaliknya, seringkali gramatika bahasa harus disesuaikan dengan penggunaan bahasa karena bahasa adalah konvensi sosial. Dari sini dapat dipahami bahwa hubungan langue-parole adalah hubungan dua arah yang saling mempengaruhi.    

About these ads
This entry was posted in Social Sciences and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Menyederhanakan Konsep Abstrak Langue and Parole

  1. NN says:

    Terima kasih telah mengundang saya berkunjung ke blog Anda. Tulisan singkat tentang sepucuk pengalaman yang Anda alami dengan teman Anda memberikan pengetahuan baru bagi saya. Setelah menyimak tulisan Anda ini, saya jadi teringat pada Teori Strukturasi yang diusung oleh Margaret Archer dan Antony Giddens dimulai sejak tahun 1960an. Mereka mengalami kejadian yang kurang lebih serupa dengan yang Anda alami. Kemudian dari pengalaman mereka itu mulailah emreka tergelitik untuk meneliti tentang fenomena linguistik-sosiologis yang ada di sekitar mereka. Singkat cerita, dari hasil penelitian mereka dapat disimpulkan bahwa teori strukturalisme yang diusung oleh de Saussure secara tidak sadar telah meyempitkan kreatifitas manusia. Maka timbullah satu kesimpulan dari mereka bahwa ketika sebuah struktur bahasa yang terdiri dari “subject+verb+object/complement” untuk sebuah frame waktu tertentu berlaku pasti dan tidak dapat diganggu gugat, maka jika ada yang berucap dengan struktur “Verb+subject+object/complement” akan secara otomatis dinilai salah. Jika ini dikategorikan “salah”, maka matilah kreatifitas manusia. Kemudian timbullah satu paham baru, bahwa “kode” (maksud saya contohnya dalam sebuah kalimat lengkap yang diucapkan oleh seseorang) yang berlaku di dalam masyarakat tidak lagi hanya memiliki dua label, yaitu “halal” (ketika kalimatnya mengikuti struktur secara tepat) dan “haram” (ketika tidak mengikuti struktur yang telah ada). Teori mereka ini kemudian dinamakan “teori strukturasi”, di mana setiap aktor (agent) memiliki hak penuh atas kalimat yang keluar dari mulutnya. Agent tidak lagi harus tunduk kepada struktur yang ada di dalam masyarakat.

    • safrinlabatu says:

      Thanks sudah berkunjung bang…
      memang betul di satu sisi De Saussure dinilai sebagai bapak linguistik modern karena berhasil memecah kebekuan ilmu linguistik pada masa itu yang melihat ilmu bahasa hanya secara diakronik. namun di sisi lain teori Strukturalisme-nya perlu dikembangkan agar tetap relevan dgn konteks pemakain bahasa dalam masyarakat. Dalam buku semiotika karya Benny H. Hoed (Dosen FIB UI) dinyatakan bahwa sebetulnya De Saussure tidak mematok bahwa Parole harus mengikuti Langue..melainkan hal itu disampaikan oleh murid2-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s